Monday, January 12, 2009

Sejarah Bangsa Israel

Sejarah Bangsa Israel

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan nama Israel. Terutama setelah penyerangan besar-besaran. Sebenarnya siapa bangsa Israel itu?



Nama Yahudi barangkali diambil dari Yehuda. Yehuda adalah salah seorang putra nabi Yakub (Kejadian 29: 22) yang kemudian hari dijadikan nama salah satu kerajaan Israel yang pecah menjadi dua, setelah Solomon (Sulaiman) meninggal (1 Raja-Raja 12). Sedangkan nama Israel adalah nama yang diberikan Tuhan kepada Yakub, setelah Yakub memenangkan pergulatan melawan Tuhan (Kejadian 32:28). Karena dosa-dosanya yang sudah tidak termaafkan lagi, bangsa Israel ini dihukum oleh Tuhan dengan menghancurkan kerajaan yang mereka miliki (2 Raja-Raja 17:7-23).

Bangsa Yahudi sangat terobsesi oleh kitab suci mereka, bahwa hanya merekalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menguasai dunia ini. Bukankah Tuhan juga yang menyatakan kepada nenek moyang mereka Ibrahim, bahwa dari keturunan Ibrahimlah Tuhan akan menurunkan raja-raja didunia ini. Bagi mereka, keturunan Ibrahim hanyalah anak cucu yang lahir dari Sarah, isteri pertama Ibrahim, sehingga keberadaan Ismael anak sulung Ibrahim dari Hajar, dianggap tidak ada. Atas kecongkakkan dan kesombongan ini, Tuhan murka kepada bani Israel. Beratus-ratus tahun mereka menjadi warga negara kelas kambing yang tertindas di negeri Firaun. Setelah Musa berhasil membawa mereka keluar dari Mesir, bangsa Israel sempat mempunyai kerajaan yang dibangun oleh Daud dan mencapai masa keemasannya ditangan Solomon. Kerajaan yang kemudian pecah menjadi dua karena intrik anak-anak Solomon, lalu menjadi lemah dan akhirnya mereka dijajah oleh Firaun Nekho (2 Raja-Raja 23:31-35). Diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar bangsa Babilonia (2 Raja-Raja 25:1-21). Dijajah oleh Romawi. Dimusnahkan oleh Nazi, Jerman. Kesemuanya itu adalah hukuman Tuhan, kepada bangsa yang oleh Yesus (Isa al Masih) disebut sebagai keturunan bangsa ular beludak (Matius 23:33). Hukuman tersebut tidak membuat mereka jera, dan bertobat. Malah menjadikan dendam kesumat dihati bangsa ini untuk melawan Tuhan, Allah Maha Pencipta.

Kecongkakkan mereka dengan menganggap diri sebagai bangsa pilihan Tuhan satu-satunya yang berhak memerintah dunia ini, membuat mereka dengan sombongnya bersumpah, untuk memerangi agama lain selain agama mereka dengan segala cara, persis ketika Iblis bersumpah kepada Tuhan untuk memperdayai anak cucu Adam, sampai dunia kiamat nanti. Tuhanpun memperingatkan ummat Islam, melalui Al-Quran untuk berhati-hati terhadap tipu daya Yahudi ini.

Pegangan mereka adalah kitab Talmud. Yang merupakan kitab setan, karena sangat jauh menyimpang, bahkan mungkin bertolak belakang dengan ajaran Taurat.

Nabi Daud AS, yang juga raja, menaklukkan bukit Zion yang merupakan benteng dari kaum Yabus. Nabi Daud AS tinggal di benteng itu dan diberinya nama: "bandar Daud" (Samuel II 5:7-9)

Sejak itu maka Zion menjadi tempat suci, dikeramatkan orang-orang Yahudi yang mereka percayai bahwa Tuhan tinggal di tempat itu: "Indahkanlah suaramu untuk Tuhan Yang menetap di Zion" (Mazmur 9:11).

Zionisme ialah gerakan orang-orang Yahudi yang bersifat ideologis untuk menetap di Palestina, yakni di bukit Zion dan sekitarnya. Walaupun Nabi Musa AS tidak sampai pernah menginjakkan kaki beliau di sana, namun orang-orang Yahudi menganggap Nabi Musa AS adalah pemimpin pertama kaum Zionis.

Untuk mencapai cita-citanya, Zionisme membangkitkan fanatisme kebangsaan (keyahudian), keagamaan dengan mempergunakan cara kekerasan untuk sampai kepada tujuannya. Zionisme memakai beberapa tipudaya untuk mengurangi dan menghilangkan sama sekali penggunaan kata "Palestina", yakni mengganti dengan perkataan-perkataan lain yang berkaitan dengan sejarah bangsa Yahudi di negeri itu. Digunakanlah nama "Israel" untuk negara yang telah didirikan oleh mereka, sebab Zionisme di Palestina identik dengan kekerasan, kezaliman dan kehancuran. Kaum Zionis mengambil nama Israel adalah untuk siasat guna mengelabui dan menipu publik, bahwa negara Israel itu tidak akan menggunakan cara-cara yang biasa digunakan oleh kaum Zionis. Pada hal dalam hakikatnya secra substansial tidaklah ada perbedaan sama sekali antara Israel dengan Zionisme. Israel sendiri berasal dari dua kata, isra mempunyai arti hamba, dan ell berarti Allah.

Secara substansial protokol Zionisme adalah suatu konspirasi jahat terhadap kemanusiaan. Protokol berarti pernyataan jika dinisbatkan kepada para konseptornya, dan berarti laporan yang diterima serta didukung sebagai suatu keputusan jika dikaitkan pada muktamar di Bale, Switzerland, tahun 1897, yang diprakarsai oleh Teodor Herzl.

Protokol-protokol itu yang sebagai dokumen rahasia disimpan di tempat rahasia, namun beberapa diantaranya dibocorkan oleh seorang nyonya berkebangsaan Perancis yang beragama Kristen dalam tahun 1901. Dalam perjumpaan nyonya itu dengan seorang pemimpin teras Zionis di rumah rahasia golongan Mesonik di Paris, nyonya itu sempat melihat sebagian dari protokol-protokol itu. Nyonya itu sangat trperanjat setelah membaca isinya. Ia berhasil mencuri sebagian dari dokumen rahasia itu, yang disampaikannya kepada Alex Nikola Nivieh, ketua dinas rahasia Kekaisaran Rusia Timur.

Sebagian kecil dari protokol-protokol Zionisme itu akan disampaikan seperti berikut:

  1. Manusia terbagi atas dua bagian, yaitu Yahudi dan non-Yahudi yang disebut Joyeem, atau Umami. Jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni. Kaum Umami berasal-usul dari syaithan, dan tujuan penciptan Umami ini untuk berkhidmat kepada kaum Yahudi. Jadi kaum Yahudi merupakan pokok dari anasir kemanusiaan sedangkan kaum Umami adalah sebagai budak Yahudi. Kaum Yahudi boleh mencuri bahkan merampas harta benda kaum Umami, boleh menipu mereka, berbohong kepada mereka, boleh menganiaya, boleh membunuh serta memperkosa mereka. Sesungguhnya tabiat asli kaum Yahudi ini bukan hanya ada disebutkan dalam protokol dokumen rahasia Zionis tersebut, melainkan ini adalah warisan turun temurun sejak cucu Nabi Ibrahim AS dari jalur Nabi Ishaq AS ini mulai mengalami dekadensi (baca: busuk ke dalam), yaitu sepeninggal Nabi Sulaiman AS. Ini diungkap dalam Al Quran (transliterasi huruf demi huruf): QALWA LYS ‘ALYNA FY ALAMYN SBYL (S. AL ‘AMRAN, 75), dibaca: qa-lu- laysa ‘alayna- fil ummiyyi-na sabi-l (s. ali ‘imra-n), artinya: mereka berkata tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (3:75).
  2. Protokol Zionisme tentang faham jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni, sangatlah menyimpang dari syari’at yang dibawakan oleh Nabi Musa AS. Mereka yang menyimpang inilah yang dimaksud dengan almaghdhu-b, artinya yang dimurkai dalam Surah Al Fa-tihah ayat 7.
  3. Protokol-protokol Zionisme itu merancang juklatnya dengan menye-barkan faham-faham yang bermacam-macam. Faham yang mereka tebarkan berbeda dari masa ke masa. Suatu waktu mempublikasikan sekularisme kapitalisme, suatu waktu menebar atheisme komunisme, suatu waktu berse-lubung agnostik sosialisme. Untuk menebarkan pengaruh internasional, protokol-protokol itu antara lain berisikan perencanaan keuangan bagi kerajaan Yahudi Internasional yang menyangkut mata uang, pinjaman-pinjaman, dan bursa. Media surat kabar adalah salah satu kekuatan besar dan melalui jalan ini akan dapat memimpin dunia. Manusia akan lebih mudah ditundukkan dengan bencana kemiskinan daripada ditundukkan oleh undang-undang.

Pada tahun 1902 dokumen rahasia Zionis itu diterbitkan dalam bentuk buku berbahasa Rusia oleh Prof. Nilus dengan judul ‘PROTOKOLAT ZIONISME’. Dalam kata pengantarnya Prof. Nilus berseru kepada bangsanya agar berhati-hati akan satu bahaya yang belum terjadi. Dengan seruan itu terbongkarlah niat jahat Yahudi, dan hura-hura pun tak bisa dikendalikan lagi, dimana saat itu telah terbantai lebih kurang 10.000 orang Yahudi. Theodor Herzl, tokoh Zionis Internasional berteriak geram atas terbongkarnya Protokolat mereka yang amat rahasia itu, karena tercuri dari pusat penyim-panannya yang dirahasiakan, dan penyebar-luasannya sebelum saatnya akan membawa bencana. Peristiwa pembantaian atas orang-orang Yahudi itu mereka rahasiakan. Lalu mereka ber-gegas membeli dan memborong habis semua buku itu dari toko-toko buku. Untuk itu, mereka tidak segan-segan membuang beaya apa saja yang ada, seperti ; emas, perak, wanita, dan sarana apa saja, asal naskah-naskah itu bisa disita oleh mereka.

Mereka menggunakan semua pengaruhnya di Inggris, supaya Inggris mau menekan Rusia untuk menghentikan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di sana. Semua itu bisa terlaksana setelah usaha yang amat berat.

Pada tahun 1905 kembali Prof. Nilus mencetak ulang buku itu dengan amat cepat dan mengherankan. Pada tahun 1917 kembali dicetak lagi, akan tetapi para pendukung Bolshvic menyita buku protokolat itu dan melarangnya sampai saat ini. Namun sebuah naskah lolos dari Rusia dan diselun-dupkan ke Inggris oleh seorang wartawan surat kabar Inggris ‘The Morning Post’ yang bernama Victor E.Mars dan dalam usahanya memuat berita revolusi Rusia. Ia segera mencarinya di perpustakaan Inggris, maka didapatinya estimasi tentang akan terjadinya revolusi komunis. Ini sebelum lima belas tahun terjadi, yakni di tahun 1901. Kemudian wartawan itu menterjemahkan Protokolat Zionis itu ke dalam bahasa Inggris dan dicetak pada tahun 1912.

Hingga kini tidak ada satu pun penerbit di Inggris yang berani mencetak Protokolat Zionis itu, karena kuatnya pengaruh mereka di sana. Demikian pula terjadi di Amerika. Kemudian buku itu muncul dicetak di Jerman pada tahun 1919 dan tersebar luas ke beberapa negara. Akhirnya buku itu diterjemah-kan ke dalam bahasa Arab, antara lain oleh Muhammad Khalifah At-Tunisi dan dimuat dalam majalah Mimbarusy-Syarq tahun 1950. Perlu diketahui, bahwa tidak ada orang yang berani mempublikasikan Protokolat itu, kecuali ia berani menghadapi tantangan dan kritik pedas pada koran-koran mereka, sebagaimana yang dialami oleh penerjemah ke dalam bahasa Arab yang dikecam dalam dua koran berbahasa Perancis yang terbit di Mesir.

Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 14 Mei 1948 silam, kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri, tercapai. Mereka berhasil melaksanakan "amanat" yang disampaikan Theodore Herzl dalam tulisannya Der Judenstaat (Negara Yahudi) sejak 1896. Tidaklah mengherankan jika di tengah-tengah negara-negara Timur Tengah yang mayoritas menganut agama Islam, ada sekelompok manusia yang berkebudayaan dan bergaya hidup Barat. Mereka adalah para imigran Yahudi yang didatangkan dari berbagai negara di dunia karena mengalami pembantaian oleh penguasa setempat.

Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestina, bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki keterikatan historis dengan Palestina, akhirnya mereka berbondong-bondong datang ke Palestina. Imigrasi besar-besaran kaum Yahudi ini terjadi sejak akhir tahun 1700-an. Akibat pembantaian diderita, maka mereka merasa harus mencari tempat yang aman untuk ditempati. Oleh Inggris mereka ditawarkan untuk memilih kawasan Argentina, Uganda, atau Palestina untuk ditempati, tapi Herzl lebih memilih Palestina.

Herzl adalah The Founding Father of Zionism. Dia menggunakan zionisme sebagai kendaraan politiknya dalam merebut Palestina. Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi. Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul telah ditaklukkannya. Zionisme adalah otak dalam perebutan wilayah Palestina dan serangkaian pembantaian yang dilakukan Yahudi.

Dengan berdatangannya bangsa Yahudi ke Palestina secara besar-besaran, menyebabkan kemarahan besar penduduk Palestina. Gelombang pertama imigrasi Yahudi terjadi pada tahun 1882 hingga 1903. Ketika itu sebanyak 25.000 orang Yahudi berhasil dipindahkan ke Palestina. Mulailah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestina oleh pendatang Yahudi. Bentrokan pun tidak dapat dapat dihindari. Kemudian gelombang kedua pun berlanjut pada tahun 1904 hingga 1914. Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestina mulai merebak.

Berdasarkan hasil perjanjian Sykes Picot tahun 1915 yang secara rahasia dan sepihak telah menempatkan Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris. Dengan berlakunya sistem mandat atas Palestina, Inggris membuka pintu lebar-lebar untuk para imigran Yahudi dan hal ini memancing protes keras bangsa Palestina.

Aksi Inggris selanjutnya adalah memberikan persetujuannya melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917 agar Yahudi mempunyai tempat tinggal di Palestina. John Norton More dalam bukunya The Arab-Israeli Conflict mengatakan bahwa Deklarasi Balfour telah menina-bobokan penguasa Arab terhadap pengkhiatan Inggris yang menyerahkan Palestina kepada Zionis.

Pada tahun 1947 mandat Inggris atas Palestina berakhir dan PBB mengambil alih kekuasaan. Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29 November 1947 membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk Palestina. Mereka menggelar demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan PBB ini. Lain halnya yang dilakukan dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas kemenangan besar ini. Bantuan dari beberapa negara Arab dalam bentuk persenjataan perang mengalir ke Palestina. Saat itu pula menyusul pembubaran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan pembunuhan terhadap Hasan al-Banna yang banyak berperan dalam membela Palestina dari cengkraman Israel.

Apa yang dilakukan Yahudi dalam merebut Palestina tidaklah terlepas dari dukungan Inggris dan Amerika. Berkat dua negara besar inilah akhirnya Yahudi dapat menduduki Palestina secara paksa walaupun proses yang harus dilalui begitu panjang dan sulit. Palestina menjadi negara yang tercabik-cabik selama 30 tahun pendudukan Inggris. Sejak 1918 hingga 1948, sekitar 600.000 orang Yahudi diperbolehkan menempati wilayah Palestina. Penjara-penjara dan kamp-kamp konsentrasi selalu dipadati penduduk Palestina akibat pemberontakan yang mereka lakukan dalam melawan kekejaman Israel.

Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel, setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul dan Abdul Qadir Audah, Muhammad Firgholi, dan Yusuf Thol’at yang terlibat langsung dalam peperangan dengan Yahudi di Palestina dihukum mati oleh rezim Mesir. Dan pada tahun 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Israel. Peristiwa itu terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap Sayyid Qutb yang amat ditakuti kaum Yahudi. Tahun 1977, terjadi serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori oleh mendiang Anwar Sadat dari Mesir

Akhirnya pada Desember 1987, perjuangan rakyat Palestina terhimpun dalam satu kekuatan setelah sekian lama melakukan perlawanan secara sporadis terhadap Israel. Gerakan Intifadhah telah menyatukan solidaritas rakyat Palestina. Intifadhah merupakan aksi pemberontakan massal yang didukung massa dalam jumlah terbesar sejak tahun 1930-an. Sifat perlawanan ini radikal revolusioner dalam bentuk aksi massal rakyat sipil.

Adanya kehendak kolektif untuk memberontak sudah tidak dapat ditahan lagi. Untuk tetap bertahan dalam skema transformasi masyarakat yang menghindari aksi kekerasan, maka atas prakarsa Syekh Ahmad Yassin dibentuklah HAMAS (Harakah al-Muqawwah al-Islamiyah) pada bulan Januari 1988, sebagai wadah aspirasi rakyat Palestina yang bertujuan mengusir Israel dari Palestina, mendirikan negara Islam Palestina, dan memelihara kesucian Masjid Al-Aqsha. HAMAS merupakan "anak" dari Ikhwanul Muslimin karena para anggotanya berasal dari para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin. Perlawanan terhadap Israel semakin gencar dilakukan dan mengakibatkan kerugian material bagi Israel berupa kehancuran pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi industri dan pertanian, serta penurunan investasi. Kerugian lainnya yaitu hilangnya ketenangan dan rasa aman bangsa Israel.

Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ”perampok” tetapi malahan dipuja sebagai ”pahlawan” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ”teroris” dan penjahat yang perlu dihancurkan.

Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni: diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, dia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

Tokoh-tokoh Yahudi banyak terjun ke media massa, terutama koran dan industri film. Hollywood misalnya didirikan oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn-Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak ”penjahat”.

Apakah anda tau siapa yang menguasai kantor-kantor berita seperti Reuter, Assosiated Press, United Press International, surat kabar Times dan jaringan telivisi terkenal dunia serta perusahaan film di Holywood? Semuanya adalah bangsa Yahudi. Reuter didirikan oleh Yahudi Jerman, Julius Paul Reuter yang bernama asli Israel Beer Josaphat. Melalui jaringan informasi dan media komunikasi massa inilah mereka menciptakan image negatif terhadap Islam, seperti Islam Fundamentalis, Islam Teroris, dan lain sebagainya. Demikian gencarnya propaganda ini, sampai-sampai orang Islam sendiri ada yang phobi Islam.

Edward Said, dalam bukunya Blaming The Victims secara jitu mengungkapkan bagaimana media massa Amerika menciptakan gambaran negatif bangsa Palestina. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang mempunyai wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang meskipun dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang Palestina di media Eropa secara umum lebih ”fair” daripada media Amerika.

Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalism (Verso 1978), menguraikan apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina merupakan praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, yakni Palestina sebelum berdirnya Israel ialah: wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

Penulis :
Agam Rosyidi
URL : http://agam.rosyidi.com/sejarah-bangsa-israel

Sunday, January 11, 2009

Aku cemburu pada Mujahidin Palestin


Aku amat mencemburuimu Mujahidin Palestin
Kamu dipilih ALLAH mempertahan tanah suci
Kamu terpilih mempertahan masjid suci bau

Syurga dapat kau rasai
Kamu mati tapi sebenarnya kamu masih hidup
Mati syahid cita-cita tertinggi kamu

Apakan daya aku hanya mampu berdoa
Aku hanya mampu menghulurkan derma
Aku sekadar mampu memboikot

Jika kamu di ambang syurga
Doakan kami dapat bersamamu

Islam akan tetap terpelihara
ALLAH akan memelihara Islam dan Al-Quran
Tapi diri kita, kita sendiri yang menentukan
Baik atau buruk, syurga atau nerak

Friday, January 9, 2009

Sejarah Palestin & Israel

Sejarah Palestin & Israel
Gambar Satelit

Gambar Satelit

Posting ini adalah bertujuan menyebarkan maklumat asas mengenai sejarah konflik Palestin-Israel yang telah wujud sejak ribuan tahun yang lalu, sekaligus berlaku terus-terusan sehingga ke sekarang malah disusuli pula dengan keganasan dan kekejaman.

Posting ini adalah ditulis berdasarkan kefahaman saya, sebarang kesilapan terutamanya dari segi fakta, mohon diperbetulkan.

Posting dipetik dari Leokid.com

Tanah Rahmat

Bagi kedua-dua pihak Islam dan Yahudi, tanah yang didiami oleh Palestin dan Israel sekarang merupakan tanah yang istimewa, yang telah ditentukan oleh Allah sejak ribuan tahun lampau.

Bagi umat Islam, di tanah inilah terbinanya Masjidil Aqsa, iaitu masjid ketiga paling mulia di dunia ini, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Bagi penganut Yahudi pula, tanah tersebut merupakan “Tanah Yang Dijanjikan Tuhan” kepada mereka. Di situlah nenek moyang mereka berasal (Bani Israel), dan di situlah kampung halaman mereka. Mereka percaya, di tanah itulah terletaknya Bukit Zion, dan situlah tertanamnya Temple of Solomon, iaitu kuil suci mereka.

Atas kedua-dua sebab inilah, tanah tersebut menjadi rebutan antara Muslim dan Yahudi sejak dari dahulu, hinggalah membawa kepada pertumpahan darah sekarang.

Bagaimana dengan Kristian pula? Kristian juga, menganggap tanah tersebut sebagai tanah suci. Di Temple of Nazareth, yang terletak di tanah tersebut, merupakan tempat kelahiran Nabi Isa. Di tanah itulah Nabi Isa menyampaikan ajarannya, dan di tanah itu jugalah Nabi Isa disalib.
Sejarah Awal

Sebenarnya sejarah bani Israel wujud sedari zaman Nabi Ibrahim lagi. Namun, kita susuri sedari kependudukan Bani Israel itu di Mesir, sepertimana yang diutuskan Nabi Musa a.s kepada mereka. Kita tahu melalui alQuran, bahawa Firaun dan tenteranya mengejar Nabi Musa dan kaumnya sehingga ke Laut Merah, di mana ketika itu Nabi Musa menggunakan mukjizatnya membelah dan menyeberangi lautan tersebut.

Setelah itulah Nabi Musa dan kaumnya Bani Israel mendiami tanah Palestin tersebut. Kita boleh baca sendiri dalam alQuran, betapa kaum ini semakin lama semakin “besar kepala”, meminta yang pelbagai dari Nabi Musa dan sebagainya. Kita juga boleh lihat kisah Talut dan Jalut yang berlaku setelah kewafatan Nabi Musa, sebagaimana yang diceritakan di dalam alQuran di surah alBaqarah.

Setelah Talut menawan kembali tanah palestin tersebut dari kekuasaan Jalut, tampuk pemerintahan Palestin disambung pula oleh Nabi Daud. Seterusnya disambung oleh Nabi Sulaiman, dengan bala tenteranya dan kegemilangan kerajaannya (termasuk haiwan, jin dan angin). Palestin dimiliki oleh Bani Israel, sehinggalah lebih kurang 60 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa. Pada tempoh ini, kerajaan Rom menekan kependudukan Bani Israel di tanah Palestin tersebut, sehinggalah akhirnya tanah Palestin dijarah oleh tentera Rom dan kaum Bani Israel diusir keluar lalu. Lalu tersebarlah kaum Bani Israel, atau dikenali sekarang sebagai Yahudi, ke serata dunia.

Sejak dari itu, tanah Palestin menjadi milik kerajaan Rom. Sehinggalah setelah kelahiran Nabi Isa, seterusnya kewujudan agama Kristian. Lebih kurang pada tahun 300 Masihi, kerajaan Rom di bawah pemerintahan Raja Constantine yang menjadikan Constantinople sebagai pusat pemerintahan, mengalami Kristianisasi. Sejak dari tempoh tersebut, kerajaan Rom menguasai Palestin.

Kedatangan Islam

Palestin kekal di bawah milik kerajaan Rom sehinggalah kelahiran Nabi kita Muhammad s.a.w. Setelah Rasulullah berjaya menubuhkan Empayar Islam, beliau wafat pada 632 Masihi. Seterusnya empayar Islam semakin berkembang, dan Palestin berjaya ditawan dari kerajaan Rom pada tahun 638 Masihi. Maka sedari itulah Palestin menjadi milik Islam, sebagai tanah suci yang ketiga selepas Makkah dan Madinah.

Sepanjang dari tempoh tersebut, kerajaan Rom yang telah menjalani Kristianisasi, mengalami pelbagai perubahan dari sudut struktur pemerintahan. Bangsa-bangsa asal Eropah seperti Vikings, Magyar dan sebagainya dikristiankan, dan pemerintahan dikuasai oleh golongan Church.

Sejak dari 1000 Masihi, tentera Kristian telah melakukan pelbagai usaha menawan kembali Palestin. Pada tahun 1063, Pope Alexander II memberikan “fatwa” mengerahkan penganut Kristian untuk berjuang mendapatkan kembali Palestin, dan barangsiapa yang berjuang diberikan status kemuliaan dan pengampunan tertinggi. Itulah yang dikenali sebagai Perang Salib (Crusades)

Akhirnya pada tahun 1099, tentera Salib berjaya menawan Palestin, dan menguasai tanah suci tersebut selama hampir 200 tahun.
Menawan Semula

Setelah Palestin ditawan, kerajaan Islam yang sedia ada konflik dalaman pada ketika itu, semakin hilang semangat. Keadaan berlanjutan sehinggalah lahirnya seorang pemimpin agung, yang dikenali sebagai Salahuddin Al Ayyubi. Salahuddin Al Ayyubi, menyatukan masyarakat Arab yang ketika itu berpecah belah akibat perbezaan mazhab dan aliran, seterusnya membawa tentera Islam menyerang kembali Palestin. Akhirnya, pada sekitar tahun 1187, ibunegara Palestin berjaya ditawan, dan pada tahun 1291 kubu terakhir tentera Salib di tanah suci tersebut berjaya dimusnahkan.

Sejak itulah tanah suci Palestin kekal di bawah pemerintahan Islam dengan aman damai. Malahan, penduduk asal Palestin iaitu Yahudi/Bani Israel dibenarkan pulang ke kampung halaman mereka, walaupun masih ramai yang bermastautin di luar. Kerajaan Islam berkembang meluas, hinggalah masuk ke era pemerintahan Turki Uthmaniyyah.

Zaman Turki Uthmaniyyah mengalami kejatuhan sejak dari abad ke-19 lagi. Proses modenisasi semakin berlaku, dan kebergantungan terhadap kuasa barat semakin wujud. Krisis-krisis dan konflik dalaman melemahkan lagi kekuasaan empayar Turki Uthmaniyyah. Khalifah pada masa tersebut hanyalah pada namaEmpayar Islam semakin lemah, di bawah kekuasaan barat seperti Britain dan Perancis.
Perang Dunia Pertama

Akhirnya, pada tahun 1914, tercetusnya perang dunia pertama. Perang dunia pertama terdiri daripada 2 kuasa besar, iaitu Pakatan Bertiga Britain-Perancis-Russia menentang Pakatan Pusat iaitu Jerman dan Austria/Hungary. Setelah perang berterusan, negara-negara lain seperti Amerika Syarikat dan Italy menyertai Pakatan Bertiga, manakala Kerajaan Turki Uthmaniyah pula menyertai Pakatan Pusat.

Berada di bawah Pakatan Pusat, kerajaan Turki Uthmaniyyah diserang hebat oleh Pakatan Bertiga Britain-Perancis-Russia. Kerajaan Islam Timur diserang dan ditawan oleh Britain. Kerajaan Islam Barat yang menjangkaui sehingga ke Algeria, Sudan dan negara-negara utara Afrika, dikuasai oleh Perancis. Kerajaan Islam juga diserang dari utara, oleh Russia, menyaksikan Russia menawan kawasan utara kerajaan Islam.

Perlu diberi perhatian, pada ketika ini, masih belum wujud negara bangsa, kerajaan Islam adalah disatukan di bawah satu pemerintahan khalifah, manakala setiap kawasan pula ditadbir oleh gabenor masing-masing.
Perpecahan Negara Arab

Pada ketika tempoh inilah, kerajaan Turki Uthmaniyyah mengalami konflik yang semakin hebat. Britain melalui perisiknya yang dikenali sebagai Lawrence of Arabia, menyuburkan semangat nasionalisma di negara-negara Arab. Pejuang kebangsaan/nasionalisma Arab pula menyerang kerajaan Turki Uthmaniyyah. Pemerintah Arab ketika itu, Emir Faisal 1, berpaling tadah dan memihak kepada Britain. Sejak dari itulah kerajaan Arab menjadi tali barut Britain.

Pada tahun 1915, Britain mula menduduki kawasan Iraq. Akhirnya pada 1917, Britain menduduki semula kawasan Palestin. Tentera Britain, diketuai General Allenby, memasuki Palestin pada 9 Disember 1917 lalu memberi ucapan - “hari ini, perang salib sudah berakhir”.

Pada 1917, Britain mengisytiharkan Deklarasi Balfour, iaitu perjanjian antara kerajaan Britain dengan ketua persatuan Yahudi Britain ketika itu, yang mana antaranya menjanjikan tanah Palestin kepada Yahudi. Penempatan Yahudi di Palestin meningkat, dari 50,000 sebelum itu kepada mencecah setengah juta, manakalan penduduk Islam Palestin ketika itu hampir mencecah 1.4 juta.

Wakil dari Yahudi ketika deklarasi tersebut, merupakan seorang Yahudi bernama Chaim Weizzmann. Weizzman juga merupakan seorang saintis, malahan saintis pertama yang menghasilkan bahan kimia acetone, seterusnya acetone digunakan sebagai cordite, iaitu sejenis bahan letupan yang menyumbang besar kepada kejayaan Britain dalam perang tersebut. Weizzman mendesak setiausaha luar Britain ketika itu, Arthur Balfour, supaya diadakan Deklarasi tersebut. Kerana terhutang budi ke atas sumbangan Weizzman, kerajaan Britain bersetuju. Pada mulanya, Britain menawarkan tanah di Uganda kepada Weizmann, namun Weizmann menolak dan mahukan Palestin. Dikatakan, Weizmann bertanya kepada Balfour,

“Encik Balfour, katakanlah saya menawarkan Paris dan London kepada encik, yang mana satukah yang encik mahukan?”

“Tetapi, kami sememangnya sudah memiliki London!”

“Betul itu, tetapi ketika London masih lagi sebuah kawasan paya, kami telahpun memiliki tanah Palestin!”

Akhirnya, British membenarkan kaum Yahudi berhijrah ke tanah Palestin.

Pada tahun 1919, Emir Faisal I ketika itu pula menandatangani perjanjian antara beliau dengan Chaim Weizzmann, menyatakan sokongan sepenuhnya beliau dan kerajaan Arab kepada Deklarasi Balfour.

Akhirnya pada tahun 1919, berakhirnya Perang Dunia Pertama. Kerajaan Islam Turki Uthmaniyyah menerima tamparan hebat setelah kehilangan kawasan-kawasannya yang luas, termasuklah Palestin. British dan Perancis mula menjalankan kolonisasi di tanah-tanah jajahannya. Dari situ wujudlah negara bangsa, apabila sempadan-sempadan digariskan memisahkan sempadan agama.
Kejatuhan Turki Uthmaniyyah.

Pada tahun 1918, tentera kolonial Britain menduduki pusat pemerintahan Turki Uthmaniyyah, iaitu Istanbul. Pada tahun 1922, setelah tamat Perang Dunia Pertama, sebuah Persidangan Lausanne diadakan, yang antaranya mempunyai beberapa tuntutan seperti - sistem khalifah ditamatkan, khalifah mestilah dibuang negeri, harta khalifah dirampas, dan kerajaan turki baru akan ditubuhkan atas dasar sekular. Ya, persidangan tersebut menjanjikan kemerdekaan ke atas negara Turki.

Seorang ahli Parlimen Turki pernah bertanya kepada Lord Curzon, ketua perunding pihak pakatan ketika itu - “Kenapa hanya Turki dimerdekakan, sedangkan negara-negara Arab yang lain masih di bawah pemerintahan kolonial?”

Lord Curzon menjawab - “Hakikatnya Turki telah dimusnahkan dan tidak akan bangkit lagi, kerana kita telah menghancurkan kekuatannya - Khalifah dan Islam.

Dalangnya utamanya, Mustafa Kamal Attartuk. Dia mengeluarkan ugutan ke atas kabinet turki ketika itu, lalu merombak parlimen sedia ada yang tidak bersetuju dengan persidangan tersebut. Parlimen kedua yang ditubuhkan juga tidak bersetuju dengan persidangan tersebut. Akhirnya, Mustafa Kamal Attartuk mengadakan konspirasi politik lalu merampas tampuk pemerintahan.

3 Mac 1924, kerajaan khalifah secara rasminya ditamatkan. Pada pagi hari tersebut juga, khalifah terakhir, khalifah Abdul Mejid II, diusir keluar dan dibuang negeri. Mustafa Kamal Attartuk mengambil mengambil takhta, dan proses pengsekularan bermula.
Holocaust

Keadaan berterusan, sehinggalah naiknya seorang pemerintah Jerman ketika itu, iaitu Adolf Hitler. Ketika tercetusnya perang dunia kedua oleh beberapa sebab, Hitler melaksanakan pelan pemusnahan kaum yang dikenali sebagai Action T4. Pelan ini merencanakan pembunuhan euthanasia beramai-ramai keatas golongan tertentu, majoritinya Yahudi.

Setelah tamat Perang Dunia Kedua, dianggarkan seramai hampir 6 juta Yahudi di seluruh Eropah mati dibunuh.

Setelah mengalami kerugian yang besar, Britain berundur dari Palestin dan tanah-tanah jajahannya yang lain pada 1948.
Penglibatan Amerika Syarikat

Amerika Syarikat, selaku kuasa besar dunia setelah Perang Dunia Kedua, memainkan peranan penting dalam penubuhan negara Israel. Pada asalnya, Israel tidaklah wujud sebagai sebuah negara yang hakiki. Setelah holocaust yang dilakukan oleh Hitler tamat, jumlah penduduk Yahudi yang ada adalah sedikit, serta mereka hidup dalam kesusahan dan ketakutan.

Pada ketika itulah, Persatuan Yahudi Amerika mengutuskan tuntutan kepada Presiden US ketika itu, Harry Truman. Pada November 1947, tuntutan tersebut dibawa ke persidangan PBB lalu PBB mendeklarasi pemisahan Palestin. Pada 16 May 1948, kerajaan sementara Israel ditubuhkan di Palestin, dengan sokongan dari PBB. Presiden Harry Truman menyokong sepenuhnya penubuhan Israel, maka wujudlah penempatan Israel di tanah Palestin sehingga kini. Presiden Israel yang pertama - Chaim Weizmann.
Palestin Sekarang

Sejak dari holocaust, ramai Yahudi berhijrah ke Amerika atas dasar terbuka negara tersebut terhadap mereka, serta ramai juga yang pulang ke tanah air di Israel. Yahudi di Amerika diterima dengan tangan terbuka, bantuan dan pekerjaan diberikan kepada mereka atas dasar belas kasihan akibat holocaust tersebut. Dari situlah, Yahudi di Amerika berkembang dan memegang tampuk ekonomi dan pentadbiran Amerika. Amerika, selaku kuasa besar dunia setelah Perang Dunia Kedua, memberikan sokongan tanpa putus-putus kepada negara Israel, yang didirikan di atas tanah Palestin yang dirampas secara haram.

Sehingga kini, Israel terus-terusan menyerang Palestin dalam usaha meluaskan sempadannya. Palestin pula berjihad, dalam usaha menawan kembali Masjidil Aqsa. Sejak kerajaan khalifah Islam tumbang, tiada sesiapa lagi yang mahu menyokong Palestin. Negara-negara Islam yang lain tunduk takut dan akur kepada Amerika. Sampai bila keadaan ini akan berakhir? Hanya 2 - sama ada Palestin akan terus dihapuskan dan Masjidil Aqsa dimusnahkan dalam usaha mereka mencari Temple of Solomon, ataupun tertegaknya kembali kerajaan khalifah Islam menyokong perjuangan Palestin.

Di mana kita? Kita boleh berdiam diri tidak berbuat apa-apa, sekaligus menjadikan kesudahan yang pertama tadi sebagai realiti.

Ataupun, kita boleh berusaha melakukan sedaya upaya menyokong perjuangan Palestin, yang membawa kepada kesudahan yang kedua.

TANGISAN GAZA

TANGISAN GAZA

" TANGISAN GAZA "

(09 Januari 2009 / 12 Muharram 1430H)

Sidang Jumaat Yang Dirahmati Allah,

Saya berpesan kepada diri saya dan menyeru kepada sidang Jumaat yang dikasihi sekelian, marilah sama-sama kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa serta melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mudah-mudahan kita mendapat keberkatan hidup di dunia dan di akhirat. Mimbar hari ini akan memperkatakan khutbah bertajuk: "TANGISAN GAZA ".

Sidang Jumaat Yang Dirahmati Allah,


Pada hari yang mulia ini, mimbar ingin menarik perhatian kita semua mengenai penderitaan rakyat Palestin. Pada masa ini wilayah Palestin semakin sempit hanya tinggal 'sekangkang kera' iaitu semenanjung Gaza dan Tebing Barat. Umat Islam Palestin semakin terhimpit dan terhapus di bumi Palestin. Hari ini genap hari ke-14, di mana beribu-ribu orang Palestin terkorban dan tercedera.

Kekejaman dan keganasan Israel ke atas Palestin sejak abad ke-20 dan hingga kini, mengingatkan kita kepada keganasan Yakjuj dan Makjuj yang disebutkan dalam al-Qur'an. Menurut Doktor Ali Shariati, pakar sosiologi dan penggerak revolusi Iran menyatakan bahawa apa yang dimaksudkan Yakjuj dan Makjuj adalah merujuk kepada kuasa Barat iaitu Amerika Syarikat dan Yahudi.

Profesor Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, Syeikhul Azhar telah menggambarkan sifat keji bangsa ini melalui bukunya 'Israel fi al-Qur'an wa as-Sunnah', bahawa Israel sebagai bangsa penjenayah kejam yang tidak membezakan orang tua, wanita, kanak-kanak, masjid, rumah ibadat, tempat awam dan sebagainya. Israel juga terkenal sebagai bangsa penjenayah yang kuat memusuhi Islam dan Arab. Golongan ini bukan sekadar ingin menguasai Palestin, malah Jordan, Syria, Lebanon, Iraq, semenanjung Sinai dan termasuklah Madinatul Munawwarah.

Sifat keji Bani Israel ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam surah al-Maidah ayat 78:


Maksudnya: " Orang kafir Yahudi dari Bani Israil telah dilaknat (di dalam Zabur dan Injil) melalui lidah Nabi Daud dan Nabi Isa ibni Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan menceroboh."


Muslimin Yang DiMuliakan Allah,

Kita amat kesal atas sikap tidak bertanggungjawab Amerika Syarikat yang menyokong jenayah keganasan yang dilakukan oleh kumpulan ini. Kita juga kecewa atas sikap negara-negara kuasa besar lain yang berdiam diri apabila melibatkan kepentingan Islam dan umat Islam, dan begitu pro-aktif apabila isu-isu yang menyentuh kepentingan masyarakat yang bukan Islam.

Adalah satu hakikat bahawa Islam dan ummah tidak boleh bergantung kepada simpati dan bantuan golongan kuffar. Oleh kerana itulah Allah SWT memberikan kita peringatan bahawa golongan kuffar tidak sekali-kali akan melindungi Islam dan ummah melainkan mereka dijadikan sanjungan dan pujaan.

Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 120:


Maksudnya: " Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka (yang telah terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka): "Sesungguhnya petunjuk Allah (agama Islam) itulah petunjuk yang benar". Dan demi sesungguhnya jika engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka sesudah datangnya (wahyu yang memberi) pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran), maka tiadalah engkau akan peroleh dari Allah (sesuatupun) yang dapat mengawal dan memberi pertolongan kepadamu."

Muslimin Yang DiMuliakan Allah,


Islam mengajar kita bahawa umat Islam adalah bersaudara dan wajib dibela. Amatlah salah, kita membiarkan saudara kita di Palestin menderita, tanpa kita melakukan apa-apa. Sedarlah, bahawa kita bukan sahaja wajib membela dan meringankan penderitaan saudara kita di Palestin, tetapi kita sebagai umat Islam juga wajib turut sama mempertahankan kesucian Baitul Maqdis kerana ia adalah kiblat pertama dalam syiar agama kita. Baitul Maqdis juga adalah tempat Rasulullah SAW Israk dan Mikraj, ia juga merupakan masjid kedua dibina di bumi ini dan ia juga tempat yang diberkati dan dilipatgandakan pahala serta diampunkan dosa.

Justeru itu, mimbar ini menyeru kepada seluruh umat Islam dan rakyat Malaysia, marilah kita membantu meringankan penderitaan saudara kita di Palestin dengan sama-sama mengambil tindakan berikut:

Pertama: menyalurkan bantuan kewangan kepada rakyat Palestin yang sedang menderita melalui badan-badan diiktiraf oleh kerajaan yang akan menyalurkannya melalui Kementerian Luar Negeri atau Wisma Putra;

Kedua: bersama-sama memboikot dan memulau perkhidmatan seperti perbankan, insuran dan dan barangan seperti produk makanan, syarikat minyak atau yang mempunyai kepentingan dengan Amerika dan Israel;

Ketiga: negara-negara OIC dan lain-lain negara serta umat Islam patut menghentikan dan mengelak dari terus menggunakan mata wang dolar dalam sebarang urusan perdagangan;

Keempat: menginsafi akan bahaya perpecahan kepada ummah dan perlunya tindakan segera dalam menyatupadukan ummah di kalangan negara Islam seluruh dunia; dan

Kelima: tanpa jemu, kita hendaklah memastikan bahawa penjenayah pernag Gaza di bawa kemuka pengadilan dan terus memburu mereka walau di mana juga.

Muslimin Yang DiMuliakan Allah,

Mungkin sekali imbas amat sukar untuk mengalahkan Israel dan sekutunya, kerana memiliki peralatan ketenteraan dan senjata nuklear yang hebat kecuali dengan kuasa Allah. Oleh itu, mimbar ini juga menyeru masjid-masjid seluruh negara mengadakan solat sunat hajat dan bacaan qunut nazilah, memohon doa kehadrat Allah SWT agar dikurniakan kepada pejuang Palestin dan Hamas khususnya, kekuatan semangat dan kecekalan hati serta kemenangan dalam menghadapi kezaliman Israel. Seluruh umat Islam juga diseru agar sama-sama mendo'akan keselamatan dan kesejahteraan rakyat Palestin.


Maksudnya: "Wahai orang yang beriman! Mahukah aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya? Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjuang membela agama Allah dengan harta benda dan diri kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu hendak mengetahui (hakikat yang sebenarnya)."

Tuesday, January 6, 2009

Boikot Barang dan Produk Amerika dan Israel



fatwa yang menyeru pemboikotan produk Israel dan Amerika

"Kebiadaban Imperialis Israel di bumi Palestin telah mendapatkan berbagai respons dari kalangan umat Islam, termasuk ulama-ulama Islam. Tokoh-tokoh Islam, seperti Syaikh Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi, Syaikhul Azhar, yang selama ini

terkesan lentur dalam setiap pernyataannya, kini lebih tegas lagi akan kewajipan memerangi musuh-musuh Islam, "Apabila kamu tidak mampu memerangi mereka (musuh-musuh Islam, Israel dan Amerika Syarikat) dengan senjata, maka selemah-lemahnya lawanlah dengan memboikot barang-barang dan produk-produk mereka."

Banyak tokoh Islam dunia yang mendukung kewajipan pemboikotan barang-barang dan produk-produk Israel dan Amerika, bahkan mengeluarkan fatwa untuk bertindak balas tindak kejahatan yang mereka lakukan di bumi Palestin.

Mereka adalah Dr. Yusuf Qardhawi, Dr. Abdul Satar Fathullah Said (Pensyarah Syariah Universiti Al Azhar), Dr. Naser Farid Wasil (mantan Mufti Mesir), Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Dunia), Dr. Abdul Hamid Ghazali (pakar ekonomi dan politik Islam) dan lain-lain. Berikut ini fatwa yang ditanda tangani tidak kurang dari 70 ulama Sudan dan negara-negara Islam lainnya, berkaitan wajibnya memboikot barang-barang dan produk-produk Imperialis Israel dan Amerika Syarikat.

Fatwa: Wajib Memboikot Barang-barang dan Produk-produk Amerika dan Israel

Segala puji bagi Allah yang telah mewajibkan hamba-hamba-Nya memerangi orang-orang kafir dengan jiwa dan hartanya. Allah telah memberikan kabar gembira kepada mereka kemenangan dan kemuliaan, Dia berfirman,

maksud ayat:-
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (Qs. At Taubah, 9: 14).


Selawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah SAW yang telah bersabda, "Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisan kamu." Selawat dan salam juga semoga tercurah kepada keluarga dan para sahabatnya.
Wahai kaum muslimin, tak tersembunyi dari kamu apa yang menimpa umat kita belakangan ini.

Konspirasi negara zalim Amerika dangan rejim Imperialis Yahudi-Israel telah merampas tanah suci kita, membantai anak-anak kita di bumi Palestin, mengepung rakyatnya dan memaklumatkan perang kepada mereka di semua media visual ataupun audio lewat pengiktiraf antarabangsa yang mereka dakwa.

Oleh karena itu, wajib bagi umat Islam tampil berperanan untuk menghadapi persoalan umat ini dengan menggunakan berbagai wasilah yang mungkin, terutama aksi pemboikotan barang-barang dan produk-produk Amerika dan Israel. Hal demikian itu berdasarkan pada:

Pertama, firman Allah SWT.,

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-
orang yang zalim. (Qs. Al Mumtahanah, 60: 9)

Kedua, persetujuan Rasulullah SAW. pada Tsumamah ketika dia berkata kepada orang-orang Quraisy,

Demi Allah, tidak akan sampai kepada kamu sebiji gandum pun sehingga Rasulullah SAW. mengizinkannya

Ketiga, Allah SWT. berfirman, "Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (Qs. Asy Syura, 42: 39). Kita semua tahu bahwa Amerika telah banyak berbuat kezaliman dan menyekat negeri-negeri Islam dan kaum muslimin, teriakan dan tangisan anak-anak, rintihan orang-orang sakit, ratapan para wanita dan ribuan mayat yang tewas tidak boleh mengetuk nuraninya.

Keempat, konsensus para ulama' yang mengharamkan pemberian manfaat buat orang-orang kafir harbi (yang memerangi umat Islam).
Menyatakan, haram hukumnya bagi setiap Muslim membeli barang-barang dan produk-produk Amerika Syarikat dan Israel, baik berupa produk-produk minuman, gas bumi dan sejenisnya, produk-produk makanan, pakaian, elektronik dan sebagainya.

Barang siapa yang melakukan transaksi bererti membela dan menolong orang-orang kafir, membantu mereka menzalimi saudara-saudaranya kaum muslimin; dia telah melakukan kesalahan dan dosa besar.


Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan alhamdulillah, selawat dan salam semoga dicurahkan kepada junjungan kita, Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.


Yang menandatangani fatwa ini adalah:
1. Syaikh Muhammad Fadhil Al Taqlawi, mantan Ketua Jamaah Anshar As Sunnah Al Muhamadiyah, Sudan.
2. Syaikh Ahmad Muhammad Ali Al Thuraifi, Ketua Dewan Fatwa dan Kajian di Universiti Al Quranul Karim
3. Syaikh Ahmad Dr. Muhammad Utsman Shalih, Rektor Universiti Islam Umdarman dan Setiausaha Majlis Ulama Sudan.
4. Syaikh Prof. Dr. Ahmad Ali Al Arzaq, Wakil Rektor Universiti Islam Umdarman Sudan.
5. Syaikh Ash Shadiq Abdullah Abdul Majid, Muraqib Am Al Ikhwan Al Muslimin, Sudan.
6. Syaikh Dr. Ismail Al Beliy, Ketua Majlis Ulama Sudan.
7. Syaikh Prof. Dr. Al Khadhar Abdul Rahim, Dekan Fakulti Ushuludin Universiti Islam Umdarman.
8. Syaikh Prof. Hasan Hamid, Wakil Ketua Dewan Fatwa dan Kajian Universiti Al Quranul Karim
9. Syaikh Dr. Al Hibr Yusuf Nur Al Daim, Ketua Dewan Pengajaran Majlis Nasional Sudan.
10. Syaikh Jalaludin Al Murad, Ketua Malis Tinggi Dakwah, Haji dan Wakaf Sudan
11. Syaikh Kamal Utsman Rizq, Khatib Masjid Jami' Agung Qurthum.
12. Mr. Muhammad Ibrahim Muhammad, Wakil Setiausaha Majlis Ulama' Sudan.
13. Syaikh Prof. Dr. Abbas Mahjub, Rektor Pusat Universiti Al Quranul Karim untuk Cabang Puteri.
14. Syaikh Al Amin Al Haj Muhammad, Pensyarah Universiti Antarabangsa Afrika.
15. Dr. Suad Al Fatih, Anggota Majlis Nasional Sudan
16. Syaikh Abdul Rahim Abul Ghaits, Rektor Institut Al Quranul Karim di Umdarman.
17. Syaikh Dr. Al Qurasyi Abdul Rahim, mantan Dekan Fakulti Syariah Universiti Al Quranul Karim.
18. Syaikh Sulaiman Utsman Abu Naro, Amir Jamaah Al Ikhwan Al Muslimin, Sudan.
19. Syaikh Abdul Khalil Al Nadzir Al Karuri, Ketua Jam'iyah Al Ishlah wal Musawah Sudan.
20. Dr. Fathimah Abdul Rahman, Pensyarah Universiti Al Quranul Karim.
21. Syaikh Dr. Kamal Abid, Rektor Islamic Center Afrika
22. Syaikh Dr. Ismail Hanaafi, Dekan Fakulti Syariah Universiti Antarabangsa Afrika
23. Syaikh Husain Asyisy, Khathib masjid Al Firdaus di Umdarman
24. Syaikh Muhammad Al Amin Ismail, Khathib Masjid Al Fath di Shafahah
25. Syaikh Dr. Abdullah Az Zubair, Pensyarah Universiti Al Quranul Karim
26. Syaikh Dr. Mubarak Rahmah, mantan Dekan Fakulti Ushuludin Universiti Islam Umdarman
27. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Abdul Ghafar, Pensyarah Universiti Qurthum
28. Syaikh Dr. Sa'ad Ahmad Sa'ad, Setiausaha Badan Penyantun Penerapan Syariat Islam, Sudan.
29. Syaikh Muhammad Hasan Thanun, Ketua Dewan Pengurus Jam'iyah Anshar
30. Dr. Umar Yusuf Hamzah, Pensyarah Universiti Islam Umdarman
31. Syaikh Hamad Al Fadini, Ketua Urusan Aqidah dan Dakwah
32. Syaikh Muhammad Abdul Karim, Khathib Masjid Majma' Islami di Jerif Barat
33. Syaikh Musa'identivikasi Basyir Ali, Khathib Masjid Agung Umdaum
34. Syaikh Dr. Ala'uddin Az Zuki, Pensyarah Universiti Qurthum
35. Syaikh Dr. Abdullah Abdul Hay, Ketua Urusan Kemahasiswaan Universiti Al Quranul Karim
36. Syaikh Dr. Abdul Hay Yusuf, Ketua Jurusan Peradaban Islam Universiti Qurthum
37. Syaikh Dr. Umar Abdul Ma'ruf Ali, Universiti Islam Umdarman
38. Syaikh Dr. Al Abid Muadz, Dekan Fakulti Syariah Universiti Al Quranul Karim
39. Syaikh Mudatsir Ahmad Ismail, Khathib Masjid Al Arqam di Al Haj Yusuf
40. Syaikh Dr. Yusuf Al Kudah, Pensyarah Universiti El Nilain
41. Syaikh Dr. Shalih Al Taum, Pensyarah Universiti Qurthum
42. Syaikh Al Abid Abdul Wahab, Pensyarah Universiti Qurthum
43. Syaikh Ibrahim Al Dharir, Anggota Dewan Fatwa dan Kajian Universiti Al Quranul Karim
44. Syaikh Dr. Ali Ulwan, Dekan Fakulti Syariah Universiti Nasional Al Ribath
45. Syaikh Ahmad Hasan Muhammad, Ketua Jurusan Komunikasi Universiti Antarabangsa Afrika
46. Syaikh Dr. Mahmud Sulaiman Jadin, Pensyarah Universiti Al Quranul Karim
47. Syaikh Fadhlullah Ibrahim Thaha, Pensyarah Universiti Al Quranul Karim
48. Syaikh Akin Mawil, Anggota Majlis Ulama' Sudan
49. Syaikh Dr. Adil Thahir, Universiti Islam Umdarman
50. Syaikh Amad Bakri Abu Hiras, Da'i
51. Syaikh Nazar Muhammad Utsman, Ketua Dewan Penasehat
52. Syaikh Dr. Izzuddin Ibrahim, Dekan Fakulti Syariah Universiti Al Quranul Karim Cabang Juba
53. Syaikh Utsman Abdul Razaq, Perintis Majlis Ulama' Sudan
54. Syaikh Ibrahim Al Arzaq, Universiti Islam Umdarman
55. Syaikh Dr. Ahmad Shadiq Basyir, Pensyarah Universiti Al Quranul Karim
56. Syaikh Jamal Thahir Hasan, Khathib Masjid Banet Timur
57. Syaikh Athiyah Muhammad Hasan, Anggota Majlis Ulama' Sudan
58. Syaikh Khalid Ramadhan, Khathib Masjid Al Mustaghfirin
59. Syaikh Umar Abdul Qadir, Televisi Qurthum
60. Syaikh Daf'ullah Muhammad Hasan, Imam dan Khathib Masjid Al Dzakirin di Riyadh
61. Syaikh Yahya Abdullah, Imam dan Khathib Masjid Al Mansyiyah
62. Syaikh Muhammad Sayid Haj, Imam dan Khathib Masjid ats Tsaurah
63. Syaikh Dr. Ibrahim Ali Muhammad, Universiti Islam Umdarman
64. Syaikh Bakri Mikyal, Khathib Masjid Mikyal
65. Syaikh Abdul Ilah Muhammad Ahmad Namr, Da'i
66. Syaikh As'ad Abdul Karim, Imam dan Khathib Masjid Majma' Al Furqan
67. Syaikh Dr. Adil Aliyullah, Universiti Islam Umdarman
68. Syaikh Taj Thalab, Imam dan Khathib Masjid Boretzudan
69. Syaikh Dr. utsman Ali Hasan, Pensyarah Fakulti Syariah Universiti Katar
70. Syaikh Ali Aba Shalih, Imam dan Khathib Masjid Muraba' Wahid di Haj Yusuf.


Friday, January 2, 2009

" UMAT ISLAM WAJIB MENYOKONG PERJUANGAN PALESTIN "

(02 Januari 2009 / 05 Muharram 1430H)

Sidang Jumaat Yang Dirahmati Allah Sekelian,

Saya berpesan kepada diri saya dan menyeru kepada sidang Jumaat yang dikasihi sekelian, marilah sama-sama kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa serta melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mudah-mudahan kita mendapat keberkatan hidup di dunia dan di akhirat. Mimbar pada hari ini akan memperkatakan khutbah bertajuk: "UMAT ISLAM WAJIB MENYOKONG PERJUANGAN PALESTIN ".

Sidang Jumaat Yang Berbahagia,

Negara Palestin adalah tempat lahir dan tinggal sebahagian besar para Rasul dan Nabi Allah menyebarkan Islam, kawasan terletaknya Masjid al-Aqsa, tempat berlakunya Israk dan Mikraj dan kiblat pertama umat Islam. Menurut sumber sejarah, bangsa Yahudi hanya duduk memerintah selama 4 kurun sahaja semenjak zaman Nabi Allah Daud, Nabi Sulaiman dan dijajah pula oleh bangsa Parsi dan Rom selepas itu. Manakala umat Islam memerintahnya semula selama 12 kurun semenjak ditadbir oleh Saidina Umar R.A pada tahun 636 Masihi sehinggalah Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) mengeluarkan Ketetapan 181 pada November 1947.

Ketetapan ini telah membahagikan 2/3 tanah Palestin kepada pendatang haram Yahudi dan selebihnya diserah kepada penduduk asal Palestin yang sah. Akhirnya Yahudi berjaya menubuhkan negara Israel secara haram pada 1948 dengan sokongan Britain dan nasionalis Arab Palestin.

Kita amat kesal tanah tempat suci dan ibadah umat Islam dirampas bahkan menjadi tempat umat Islam Palestin dibunuh kejam. Sejak Yahudi menduduki Palestin pada tahun 1948 hingga kini dianggarkan seramai 282,700 orang rakyat Palestin telah terkorban kerana mempertahankannya. Serangan terbaru rejim zionis Israel ke atas Palestin dalam beberapa hari ini menyebabkan kira-kira 400 orang Palestin lagi maut.

Bangsa Yahudi tidak pernah mengenal mangsa sama ada bayi, kanak-kanak, remaja, lelaki, wanita, Nabi-nabi, Rasul-rasul Allah atau orang biasa. Mereka akan membunuh tanpa rasa belas kasihan dan hak. Ini dirakamkan oleh Allah SWT dalam surah an-Nisa' ayat 157:

Maksudnya: " Maka dengan sebab mereka mencabuli perjanjian setia mereka dan mereka kufur akan ayat-ayat keterangan Allah dan mereka menbunuh Nabi-nabi dengan tiada suatu alasan yang benar dan mereka berkata: hati kami tertutup. Bahkan Allah telah memeterai hati mereka disebabkan kekufuran mereka. Oleh itu mereka tidak beriman kecuali sedikit sahaja diantaranya. "

Sidang Jumaat Yang Berbahagia,

Persoalan besar timbul ialah mengapa Yahudi berterusan menjadi ganas dan kejam tanpa ada rasa peri kemanusiaan?. Ini disebabkan mereka terlalu taksub dengan bangsanya yang dianggap sebagai pilihan Tuhan, bangsa yang disayangi Tuhan, halal membunuh orang yang bukan Yahudi, mendapat sokongan kuat daripada Amerika Syarikat dan beberapa negara Eropah serta negara Islam yang bersekongkol dengan mereka. Kita amat kesal, negara Barat yang kononnya kuat mempertahankan hak-hak asasi manusia, kanak-kanak, wanita, orang tua, demokrasi dan sebagainya, tetapi berlepas tangan apabila berlaku pencabulan hak asasi rakyat Palestin. Penubuhan negara Israel secara haram diiktiraf sah oleh pihak Barat tetapi mereka tidak mengiktiraf pergerakan Hamas yang memenangi pilihanraya secara demokrasi.

Kadangkala kita amat sedih terdapat negara Islam terpaksa bertungkus lumus dan bersusah payah menjawab surat tunjuk sebab kepada PBB kerana dikatakan melanggar hak asasi manusia, sedangkan PBB sendiri tidak bertanggungjawab dengan deklarasi sedia ada untuk Palestin atau negara Islam yang lain. Oleh itu, mimbar menyeru umat Islam di negara ini, jangan bersyubhat dan terikut-ikut serta tertarik dengan perjuangan hak asasi manusia yang dipelopori Barat dan proksi Yahudi di negara ini, kerana mereka bersikap 'Talam Dua Muka', penuh penipuan dan tiada integriti.

Berdasarkan pemerhatian, pergerakan Islam Hamas di Palestin dan pergerakan Islam Hizbullah di Lubnan adalah pertubuhan jihad paling berkesan mempertahankan hak asasi Palestin. Kedua-dua pertubuhan ini juga paling ditakuti oleh Israel dan pakatannya kerana mampu mengugat kerajaan haram Israel. Umat Islam diseru agar berdiri teguh dibelakang dua pertubuhan ini dalam mempertahankan hak dan martabat Islam.

Sidang Jumaat Yang Berbahagia,

Umat Islam bertanggungjawab membantu penduduk Palestin dalam pelbagai cara. Sama ada bersifat kebendaan atau sebaliknya mengikut kemampuan. Kita mestilah berdoa demi keselamatan dan kebebasan bumi Palestin dari ancaman musuhnya. Sheikh Yusof al-Qardhawi dan Dr. Wahbah Zuhaili adalah ulamak terkemuka dunia menegaskan bahawa umat Islam wajib membantu saudaranya yang kesusahan dalam pelbagai aspek yang diperlukan walaupun terpaksa mengikat perut. Mimbar ini juga menyokong penuh fatwa Sheikh Yusof al-Qardhawi bahawa jihad pengebom berani mati khususnya di Palestin adalah tidak bercanggah dengan Islam dalam usaha mempertahankan Islam dan tanah air.

Oleh yang demikian selari dengan peristiwa Hijratur Rasul SAW, maka sewajarnya mampu menjadi pemangkin kepada kita untuk bersama-sama dengan pertubuhan gerakan Islam menghapuskan kezaliman, penindasan dan keganasan di Palestin.

Sidang Jumaat Yang Dirahmati Allah,

Mengakhiri khutbah, mimbar yang mulia ini menyeru semua umat Islam, marilah kita sama-sama membantu mempertahan dan menyelamatkan maruah bumi Palestin dengan tindakan berikut:

Pertama: Umat Islam wajib bersatu padu mempertahankan Islam dan tidak bergantung harap bantuan orang bukan Islam untuk menyelamatkan maruah Islam;

Kedua: Sikap tidak peduli umat Islam tentang persoalan akidah, ibadah, syariat dan akhlak akan menjerumuskan umat Islam di bawah telunjuk Yahudi dan pakatan mereka;

Ketiga: Pemimpin dunia Islam hendaklah berani memberi sokongan kepada Hamas dan Hizbullah untuk mempertahankan Islam dan tanah air;

Keempat : Menjiwai dan sensitif terhadap sebarang bentuk pencabulan harta, nyawa dan maruah umat Islam;

Kelima: Menghulurkan bantuan derma mengikut kemampuan; dan

Keenam: Memulaukan pembelian barangan yang dikeluarkan oleh syarikat-syarikat yang ada kaitan dengan Yahudi.

Firman Allah SWT dalam surah al-Maidah ayat 78:

Maksudnya: " Orang kafir Yahudi dari Bani Israel telah dilaknat (di dalam Zabur dan Injil) melalui lidah Nabi Daud dan Nabi Isa Ibni Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan menceroboh. "

ayat 6